Ancaman Tarif Trump Tekan Pasar Kripto, Bitcoin dan Ethereum Anjlok
Pasar kripto kembali melemah seiring investor global merespons ancaman tarif terbaru dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ketidakpastian geopolitik membuat pelaku pasar cenderung menghindari risiko dan mengurangi kepemilikan aset berisiko.
Mengutip Cointelegraph.com, Rabu (21/1), harga Bitcoin turun ke kisaran USD 88.983. Sementara itu, Ether melemah ke sekitar USD 2.964. Kedua aset kripto utama tersebut kembali menyentuh level terendah dalam lebih dari dua pekan terakhir.
Ancaman tarif ini dikaitkan dengan upaya pemerintah Amerika Serikat menekan Denmark agar mempertimbangkan ulang penguasaan wilayah Greenland. Namun, negara-negara Eropa dinilai belum menunjukkan sikap terbuka untuk bernegosiasi.
Kekhawatiran Pasar Meningkat
Situasi tersebut memicu kekhawatiran bahwa konflik ekonomi dapat meluas dan berdampak pada stabilitas global. Investor pun memilih bersikap defensif sambil menunggu kejelasan arah kebijakan ke depan.
Tekanan jual terlihat jelas di pasar kripto. Total kapitalisasi pasar kripto turun menjadi sekitar USD 2,71 triliun, dari hampir USD 3 triliun pada pekan sebelumnya. Kondisi ini menandakan sentimen negatif masih mendominasi.
Saham Melemah, Investor Beralih ke Aset Aman
Tekanan pasar tidak hanya terjadi di kripto, tetapi juga merambah ke pasar saham. Indeks S&P 500 tercatat turun 1,9% dalam satu hari perdagangan.
Di tengah pelemahan saham, investor justru beralih ke aset yang dinilai lebih aman. Harga emas melonjak dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap aset lindung nilai.
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor lima tahun naik ke level tertinggi dalam hampir enam bulan. Kenaikan ini menunjukkan investor meminta kompensasi lebih tinggi untuk menutup risiko ekonomi yang meningkat.
Kondisi tersebut kerap dikaitkan dengan kekhawatiran inflasi serta potensi perlambatan ekonomi. Investor menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dana mereka.
Investor kawakan Ray Dalio bahkan menilai dunia berpotensi memasuki fase baru konflik keuangan global. Dalam fase ini, sejumlah negara mulai meninjau ulang ketergantungan terhadap aset Amerika Serikat.
Tantangan Pasar Masih Besar
Di tengah tekanan pasar, Bitcoin tetap menjadi aset kripto terbesar di dunia dengan kapitalisasi sekitar USD 1,8 triliun. Nilai tersebut menempatkan Bitcoin sebagai aset global terbesar kedelapan.
Namun, posisinya mulai dikejar oleh perusahaan-perusahaan besar dunia seperti TSMC dan Saudi Aramco yang memiliki nilai pasar sangat besar. Di sisi lain, posisi Ether dinilai lebih rentan.
Dengan kapitalisasi sekitar USD 360 miliar, Ether kini berada di luar 40 besar aset global. Nilainya bahkan telah disalip oleh perusahaan ritel dan hiburan seperti Home Depot dan Netflix. Kondisi ini mencerminkan melemahnya minat investor terhadap altcoin.
Selain itu, perhatian pasar juga tertuju pada risiko utang global. Jepang diperkirakan akan menggelar pemilu cepat yang berpotensi mendorong stimulus ekonomi tambahan. Padahal, rasio utang negara tersebut telah melampaui 200% dari produk domestik bruto.
