Hashim Djojohadikusumo Nilai Sistem Pajak–Bea Cukai Bermasalah, Ini Tanggapan Menkeu Purbaya
2 mins read

Hashim Djojohadikusumo Nilai Sistem Pajak–Bea Cukai Bermasalah, Ini Tanggapan Menkeu Purbaya

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons pernyataan Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, yang menilai sistem pajak dan bea cukai masih bobrok sehingga penerimaan negara belum optimal.

Purbaya tidak menampik adanya potensi kebocoran penerimaan di berbagai sektor. Meski demikian, ia tidak merinci secara spesifik titik-titik kebocoran yang dimaksud.

Menurut Purbaya, salah satu langkah yang diusulkan untuk menutup celah tersebut adalah penerapan otomatisasi di sektor Bea dan Cukai, terutama dalam pengawasan komoditas strategis seperti rokok.

“Ya betul. Kita enggak tahu, yang jelas pasti ada yang bocor kan di sana-sini. Yang Pak Hashim usulkan untuk Bea Cukai itu otomatisasi, misalnya untuk monitoring produksi rokok,” kata Purbaya di Istana Negara, Selasa (16/12/2025).

Ia menjelaskan, otomatisasi dinilai penting karena memungkinkan pengawasan dilakukan secara real time dan lebih akurat. Sistem ini juga diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada laporan manual yang berpotensi dimanipulasi.

Purbaya mengaku telah melihat langsung teknologi yang ditawarkan untuk mendukung pengawasan tersebut. Menurutnya, sistem itu cukup baik dan layak diterapkan.

Namun, untuk tahap implementasi, pemerintah masih menunggu hasil negosiasi harga alat yang akan digunakan. Ia berharap biaya pengadaan teknologi tersebut bisa ditekan.

“Saya sudah lihat teknologinya cukup bagus. Mungkin akan diterapkan, tinggal masalah negosiasi harganya. Jangan kemahalan, biar murah dikit lah,” ujarnya.

Otomatisasi Cukai Rokok Jadi Prioritas

Lebih lanjut, Purbaya menyebut teknologi otomatisasi cukai rokok memungkinkan pemantauan produksi secara langsung dan data akan masuk otomatis ke sistem keuangan Bea dan Cukai.

Dalam skema tersebut, setiap produk rokok akan memiliki kode khusus yang bisa dipindai menggunakan telepon genggam atau perangkat tertentu. Dari kode tersebut, petugas dapat mengetahui asal rokok, jalur distribusi, hingga status pembayaran cukainya.

Dengan sistem ini, pengawasan di lapangan diharapkan menjadi lebih mudah, cepat, dan transparan.

“Jadi nanti rokok langsung dimonitor sama alat itu, langsung masuk ke sistem keuangan di Bea Cukai. Kalau jadi, di cukainya ada kode khusus. Pakai handphone atau alat tertentu bisa ketahuan rokoknya dari mana, jalurnya ke mana. Pengawasannya jadi lebih gampang,” jelasnya.

Digitalisasi Pajak Lintas Negara Masih Dikaji

Selain bea cukai, Kementerian Keuangan juga tengah mengkaji digitalisasi dan otomatisasi pajak, khususnya untuk aktivitas perdagangan lintas negara.

Namun, Purbaya mengakui penerapan sistem pajak digital internasional tidak semudah otomatisasi cukai rokok. Sejumlah sistem yang ditawarkan vendor dinilai belum sepenuhnya siap dan masih membutuhkan penyesuaian dengan kebutuhan Indonesia.

“Satu lagi, otomatisasi pajak juga sedang didigitalisasi, khususnya perdagangan ke luar negeri. Itu sedang kita pelajari. Cuma kelihatannya agak berat, karena sistem yang ditawarkan vendornya belum siap,” pungkas Purbaya.

Sumber Merdeka.com